Syekh As-Shiba’i: Pejuang Palestina dari Suriah  

Posted by agus3anto



Syekh Musthafa As Siba’i nama lengkapnya adalah Syekh. DR.Musthafa Husni As Siba’i dengan panggilan Abu Hasan, lahir di kota Himsh, Suriah, tahun 1915. Beliau anak dari seorang ulama, mujahid dan khatib yang terkenal di masjid Jami’ Raya Himsh, Syekh Husni As Siba’i. Pada tahun 1933, Musthafa As Siba’i pergi ke Mesir untuk menuntut ilmu di Universitas Al-Azhar.

Di Mesir beliau bertemu dan berkenalan dengan Imam Hasan Al-Banna, Mursyid Am Al-Ikhwan Al-Muslimin. Ketika menjadi mahasiswa di Mesir, Musthafa As Siba’i tidak hanya sibuk di bangku kuliah mengejar prestasi akademik, beliau juga aktif dalam kegiatan ekstra kampus bersama Al-Ikhwan Al-Muslimin, melakukan pembelaan terhadap umat, dan ikut berbagai demonstrasi menentang penjajah Inggris tahun 1941.

Beliau juga ikut mendukung Revolusi Rasyid Ali Al-Kailani di Irak melawan Inggris. Akibatnya, beliau bersama teman-temannya ditahan pemerintah Mesir atas instruksi penjajah Inggris. Musthafa As Siba’i mendekam dalam tahanan sekitar tiga bulan, kemudian di pindah ke penjara Sharfanda di Palestina dan mendekam di sana selama empat bulan. Pada tahun 1942, beliau mengumpulkan seluruh potensi perjuangan umat Islam di Suriah yang terdiri dari ulama, da’i, aktifis, tokoh-tokoh lembaga Islam dari berbagai propinsi untuk berjuang dalam satu jama’ah yang disepakati, yaitu Jama’ah Al-Ikhwan Al-Muslimin. Delegasi Mesir yang hadir pada pertemuan itu adalah Ustadz. Said Ramadhan (menantu Imam Hasan Al-Banna).

Pada tahun 1945, diadakan pertemuan kembali dan para peserta pertemuan sepakat untuk memilih Musthafa As Siba’i sebagai Muraqib ‘Am (Pengawas Umum) Al-Ikhwan Al-Muslimin Suriah. Tahun 1948 terjadi Perang Palestina, Musthafa As Siba’i, Muraqib Am Al-Ikhwan Al-Muslimin Suriah memimpin langsung batalion Suriah dan bergabung dengan 10.000 pasukan Al-Ikhwan Al-Muslimin dari berbagai negara Arab untuk membantu rakyat Palestina yang sedang berjuang melawan penjajah Zionis Yahudi.

Pasukan Syekh Musthafa As Siba’i dengan semangat jihad yang tinggi, pengorbanan yang besar, berhasil masuk ke kota suci Al-Quds, jika tidak ada pengkhianatan para pemimpin Arab tentu Palestina akan lain ceritanya dengan yang terjadi saat ini, itulah episode sejarah perjuangan yang senantiasa dicemari oleh para pengkhianat penjual umat dan tanah airnya karena cinta dunia dan takut mati.

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanah-amanah yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.(QS: Al-Anfaal/8: 27).

Sesungguhnya Allah membela orang-orang yang telah beriman. Sesungguhnya Allah tidak menyukai tiap-tiap orang yang berkhianat lagi mengingkari nikmat.(QS: Al-Hajj/ 22: 38).

Syekh Musthafa As Siba’i secara khusus menulis buku tentang jihad di Palestina yang berjudul Jihaduna fi Filisthin. Di dalam buku Al-Ikhwan fi Harbi Filisthin, Syekh Musthafa As Siba’i berkata, “Ketika berada di medan pertempuran Al-Quds, kami merasakan di sana ada manuver-manuver yang terjadi di tingkat internasional dan tingkat pemerintahan resmi negara-negara Arab. Kami yang tergabung di batalion Al-Ikhwan Al-Muslimin memusyawarahkan hal-hal yang perlu kita tempuh, setelah adanya instruksi kepada kami untuk mengundurkan diri dari Al-Quds. Kami sepakat tidak mampu menentang instruksi kepada kami untuk meninggalkan Al-Quds, karena berbagai pertimbangan. Kami juga sepakat sesampainya di Damaskus, kami mengirim sebagian Al-Ikhwan Al-Muslimin ke Al-Quds sekali lagi secara sembunyi-sembunyi, untuk mempelajari apakah ada kemungkinan kembali lagi ke sana secara pribadi, demi melanjutkan perjuangan kami membela Palestina. Kami kembali ke Damaskus bersama seluruh anggota batalion dan komandan-komandannya yang bergabung dengan pasukan penyelamat. Pasukan penyelamat ini melucuti persenjataan kami dan berjanji mengundang kami sekali lagi bila dibutuhkan.”

Tahun 1949, Syekh Musthafa As Siba’i meraih gelar Doktor dari Fakultas At Tasyri’ Al-Islami dan Sejarahnya dari Universitas Al-Azhar dengan disertasi berjudul As Sunnah wa Makanatuha fit Tasyri’ Al-Islami, lulus dengan suma cumlaude. Dalam tesisnya tersebut As Sibaai' menyanggah habis argumen kaum Orientalis tentang kedudukan As Sunnah dalam Syariat Islam. Beliau juga menulis buku khusus tentang orientalis dengan judul, Alistisyraq Wal Mustasyriqun (Orientalisme dan kaum Orientalis). Tahun 1953, Syekh Mustafa As Siba’i menghadiri konfrensi Islam untuk pembelaan Al-Quds yang diadakan di kota Al-Quds dan dihadiri oleh perwakilan Al-Ikhwan Al-Muslimin dari seluruh negara Arab dan para tokoh Islam dunia, termasuk saat itu hadir Dr. Muhammad Natsir sebagai wakil Indonesia.

Selama tujuh tahun Syekh As Siba’i menderita lumpuh pada sebagian tubuhnya termasuk tangan kirinya, tetapi beliau sabar, pasrah terhadap ketentuan Allah, ridha terhadap hukum-Nya. Walaupun lumpuh sebagian tubuhnya tidak menghalangi beliau untuk berdakwah dan membina umat. Syekh Siba’i, tidak hanya piawai dalam menulis, ahli dalam pidato, beliau juga memperaktekkan kewajiban agama dengan ikhlas dan mengharapkan ridha Allah, padahal kondisi tubuhnya sudah uzur karena lumpuh dan sakit yang diderita.

Dengan menggunakan tongkat, beliau berjalan di pagi hari dan sore hari menuju masjid untuk shalat, sujud dan rukuk kepada Allah, pada saat yang sama ada orang yang badannya sehat, berjalan tidak bertongkat, penampilannya memikat, enggan dan tidak mau datang ke masjid untuk melaksanakan sholat, terutama sekali sholat subuh berjama’ah di masjid.

Hari Sabtu, 3/10/1964, Syekh. DR. Musthafa Siba’i, pembela Palestina dan kota Suci Al-Quds, pejuang yang gigih lagi sabar meninggal dunia di kota Himsh. Jenazahnya diiringi rombongan yang besar dan dishalatkan di masjid Jami’ Al-Umawi, Damaskus. Mufti Palestina, Syekh Muhammad Amin Al-Husaini memberi kesaksian: Suriah kehilangan tokoh besar mujahid agung. Dunia Islam kehilangan ulama besar, ustadz mulia dan dai piawai. Saya mengenalnya dan melihat pada dirinya keikhlasan, kejujuran, keterbukaan, tekad baja, motivasi kuat dalam membela akidah dan prinsip. Ia memiliki kans besar dan peran nyata dalam melayani problematika Islam dan Arab, terutama problematika Suriah dan Palestina. Ia memimpin batalyon Al-Ikhwan Al-Muslimin demi membela Baitul Maqdis tahun 1948. Semoga Allah mengampuni segala dosanya, menerima segala ibadahnya dan memasukkan beliau ke dalam surga bersama para Nabi, rang-orang yang jujur, para syuhada, dan orang-orang shalih, amin!

Hasbunalloh wa ni’mal wakil  

Posted by agus3anto

Manusia yang lemah dan terbatas ini mau tidak mau harus berhubungan dengan Kekuatan Maha Besar yang semestinya meminta pertolongan dariNya, ketika beban yang ditanggungnya melampaui kekuatan-kekuatannya yang terbatas, ketika merasa keberatan untuk menanggung beban, ketika jalan terasa begitu panjang sementara cita-citanya semakin menjauh dalam umurnya yang terbatas dan ketika langkah-langkah semakin berat untuk melangkah mencapai tujuan.

....."Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung". (QS. Ali ‘Imran:173).


Tatkala Nabi Ibrahim diletakkan di manjaniq, Jibril bertanya kepadanya. “Apakah engkau butuh kepadaku?” Ibrahim menjawab, “Kalau kepadmu (aku) tidak (butuh), tapi kalau kapada Alloh, ya”. Hasbunalloh wa ni’mal wakil, diucapkan oleh Ibrahim tatkala dilemparkan ke dalam api, sehingga api itu tiba-tiba menjadi dingin dan tidak menghancurkan Ibrahim.


“Dan mengapa ketika kamu ditimpa musibah (pada peperangan Uhud), padahal kamu telah menimpakan kekalahan dua kali lipat kepada musuh-musuhmu (pada peperangan Badar), kamu berkata: "Darimana datangnya (kekalahan) ini?" Katakanlah: "Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri". Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS. Ali ‘Imran:165)”. Hasbunalloh wa ni’mal wakil, diucapkan oleh Rasululloh s.a.w saat perang Uhud, kemudian Alloh pun menolong mereka.


Seorang itu akan selalu berada di antara sesat dan benar “..maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. (QS. Asy Syams:8)”. Bahkan dalam satu waktu seorang bisa dalam keduanya. Ketika seorang hamba bersyukur, taat kepada Alloh dan membuatnya Ridho, maka Alloh akan menurunkan pertolongan-Nya. Sebaliknya jika seorang hamba menyekutukan-Nya, menentang-Nya dan mendurhakai-Nya maka Alloh akan murka dan membiarkan kita dalam kegelapan. “Disebabkan kesalahan-kesalahan mereka, mereka ditenggelamkan lalu dimasukkan ke neraka, maka mereka tidak mendapat penolong-penolong. bagi mereka selain dari Allah (QS. Nuh:71)”.


“Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan (kepada Alloh dengan sabar dan shalat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. (QS. Al-Baqarah:153)”. Oleh karena itu, setiap kali dalam kepayahan Rasululloh s.a.w senantiasa berseru, “Istirahatlah kami dengan shalat wahai Bilal!”. Dan beliau pun banyak-banyak mengerjakan shalat jika tengah menghadapi suatu masalah agar beliau semakin bertemu Alloh. Dari ‘Abudullah bin Mas’ud ra, ia menuturkan, “Aku menyaksikan Rasululloh s.a.w tengah menceritakan seorang nabi yang dipukuli kaumya hingga berdarah-darah, nabi itu membersihkan darahnya dari mukanyaa sembari berdoa, “Ya Alloh, ampunilah kaumku, sebab mereka tidak mengetahui.” (HR. Bukhari dan Muslim).



Tatkala waktu berjalan lama dan keletihan sudah sampai puncaknya, adakalanya kesabaran pun melemah atau bahkan hilang sama sekali. Karena itu Alloh menambahkan shalat kepada kesabaran, sebab dialah penolong yang tidak pernah jenuh dan bekal yang tidak pernah habis. Sabar adalah penolong yang memperbaharui energi dan bekal yang menguatkan hati sehingga tali kesabaran pun semakin panjang dan tidak terputus. Kemudian menguatkan ridha, keceriaan, ketenangan, kepercayaan diri dan keyakinan.


Menyerahkan semua perkara kepada Alloh, bertawakal kepadaNya, percaya sepenuhnya terhadap janji-janjinya, ridha dengan apa yang dilakukanNya, berbaik sangka kepada-Nya, dan menunggu dengan sabar pertolonganNya merupakan buah keimanan yang paling agung dan sifat yang paling mulia dari seorang mukmin.


Wallahu a’lam bish showab...



Rujukan:

Al-Qarni, ‘Aidh, DR. 2005. Laa Tahzan-Jangan Bersedih. Cetakan kedelapanbelas. Qisthi Press: Jakarta Timur.

Quthb, Sayyid. 2007. Fikih Pergerakan-Aku Wariskan Untuk Kalian. Cetakan Pertama. Uswah: Yogyakarta.

Belajar dari kambing  

Posted by agus3anto

Belajar dari kambing
Dani Ardiansyah

Apa yang bisa kita pelajari dari kambing? suaranya kah? pola makannya kah? atau apa? atau kebiasaannya yang jarang mandi? Hmm, sepertinya nyaris tidak ada yg bisa kita pelajari dari perilaku hewan yang satu ini, selain hal-hal yang justru seharusnya kita hindari. Nah diantara beberapa kebiasaan kambing yang yang harus kita hindari, ternyata ada satu hal yang bisa kita jadikan sebagai suri tauladan serta dapat kita ambil sebagai hikmah dalam mengarungi samudra kehidupan ini. Sumpe lo? emang ada?


Yuk kita intip Al-Quran surah Ash-Shaffat ayat 101 dan 102. Dalam surat itu, Allah berfirman sebagai berikut:


“Telah Kami kabarkan berita gembira kepada Ibrahim tentang anaknya yang sangat sabar. Ketika anaknya (Ismail) itu telah sampai pada usia yang cukup baginya untuk melakukan usaha, Ibrahim berkata, ‘Wahai anakku, sungguh aku telah bermimpi. Dalam mimpiku itu, aku menyembelihmu. Bagaimana pendapatmu mengenai hal ini?’ Ismail lalu menjawab, “Wahai ayahku, kerjakanlah apapun yang telah diperintahkan. Insya Allah, engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang bersabar”. Loh, mana bagian tentang kambingnya? -hehe, sabar dulu dong!


Kok tega ya, Nabi Ibrahim mau menyembelih Ismail yang secara Beliau adalah darah dagingnya sendiri, anak kandung, belahan jiwa, Penerus bangsa, gubrak!


Udah gitu, kok mau-maunya Ismail kecil di sembelih sama bapaknya sendiri, coba kalo kita yang ditanya begitu sama bapak kita, wah sudah bisa dipastikan kabur deh. Atau langsung lapor rt, rw setempat plus ke Kak Seto. loh kok, kak Seto di bawa-bawa? iya, kan doi yg punya komisi perlindungan anak.


Cintalah ternyata yang menjadikan mereka melakukan itu semua, cintalah yang ternyata juga membuat Nabi Ibrahim tega mengatakan itu pada Ismail, dan cinta jugalah yang melembutkan hati Ismail dan menerima segala keputusan dari sang ayah yang hanya berdasarkan pada sebuah mimpi.Dua manusia mulia ini, yaitu Ibrahim dan Ismail, telah menunjukkan sebuah konsep penghambaan yang paling agung. Penghambaan pada Sang pencipta yang telah memberikan mereka segalanya, dan ketika Sang pemilik hidup meminta kembali yang telah diberikan-Nya. Maka Nabi Ibrahim yang hanya sebatas penerima amanah, harus dengan rela mengambalikan hal tersebut. Terus, hubungannya sama kambing apa dong?, weit, sabar dulu Bro!


Bagi siapapun juga, hal paling berharga yang dimiliki oleh manusia adalah nyawanya. Bagi seorang ayah, nyawa anak kandung adalah hal paling bernilai. Pengorbanan tiada tara yang dilakukan oleh Ibrahim dan Ismail itu menyebabkan turunnya rahmat dan keridhoan dari Allah yang Maha Pengasih. Ismail yang sudah pasrah disembelih oleh ayahnya, diganti menjadi seekor domba oleh Allah SWT. Ismail sendiri selamat karena yang kemudian disembelih adalah domba yang diturunkan Allah itu. Coba deh, contek lagi surah Ash-Shaaffaat ayat 105 hingga ayat 110 berikut ini.


“Sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu[1284] sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar[1285]. Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, (yaitu) Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.”


Fyuh, akhirnya, kecintaan Nabi Ibrahim dengan melaksanakan perintah-Nya mendapatakan balasan yang juga lebih bermkna. Coba bayangin deh, jika saja waktu itu Allah SWT tidak mengganti Nabi Ismail dengan Domba tersebut, maka semua orang tua akan melaksanakan ibadah seperti yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim alaihissalam. Serem kan? But don't worry Guys, Allah sudah menjelaskan pada kita Dalam kaitan dengan ibadah qurban. Allah menegaskan bahwa daging hewan yang diqurbankan itu tidak akan sampai kepada-Nya hanyalah ketaqwaan pelaksana qurban itu. Jadi Allah tidak mengharapkan daging dan darah hewan qurban itu, tetapi mental ketaqwaan yang tumbuh di hati yang bersih dan ikhlas. So, kaitannya sama kambing apaan dong?? Wew, capee deeh!


Yang pasti, pupus sudah anggapan kita tentang pesan kekejaman atau kekerasan dalam fragmen yang terjadi anatara Nabi Ibrahim dan Ismail as. yang ada hanyalah pasan moral yang sedemikian agung tentang kepasrahan, tentang keikhlasan, dan tentang humanisme. Nah loh, iya dong. Dengan fragmen tersebut, Allah SWT seakan menunjukan bahwa, sama sekali Allah tidak mentolelir pengorbanan yang mengatasnamakan Tuhan, hingga kemudian menjadikan seseorang kehilangan nyawanya. Dan ini adalah sebuah penegasan dari Allah, bahwa Islam adalah agama yang humanis, yang menjunjung tinggi nilai-nilai kehidupan. Sama sekali bukan agama yang anarkis.


Ibrahim dan Ismail telah mendidik umat manusia untuk menundukkan segala nafsu, kedengkian, amarah, berhasil mendudukan manusia pada porsi yang sesungguhnya: sebagai khalifah (pemimpin) tentu juga sebagai abdullah (hamba Allah). Semangat berkurban untuk sesama, memberikan yang terbaik yang ia miliki dengan landasan cinta kasih kepada Allah dan sesama manusia, dan akhirnya mampu membangun kembali benang-benang persaudaraan yang telah putus, inilah nilai-nilai pengorbanan hakiki yang diajarkan oleh Ibrahim kepada kita sebagai umat manusia. Jadi, hubungannya sama kambing apa dong?


Hadis riwayat Anas bin Malik ra., ia berkata: Nabi saw. berkurban dengan dua ekor kibas berwarna putih agak kehitam-hitaman yang bertanduk. Beliau menyembelih keduanya dengan tangan beliau sendiri, seraya menyebut asma Allah dan bertakbir (bismillahi Allahu akbar). Beliau meletakkan kaki beliau di atas belikat kedua kambing itu (ketika hendak menyembelih). (Shahih Muslim No. 3635)




[1284]. Yang dimaksud dengan membenarkan mimpi ialah mempercayai bahwa mimpi itu benar dari Allah s.w.t. dan wajib melaksana- kannya.

[1285]. Sesudah nyata kesabaran dan ketaatan Ibrahim dan Ismail a.s. maka Allah melarang menyembelih Ismail dan untuk meneruskan korban, Allah menggantinya dengan seekor sembelihan (kambing). Peristiwa ini menjadi dasar disyariatkannya Qurban yang dilakukan pada hari Raya Haji.

Matahari Terbit Dari Barat  

Posted by agus3anto

Assalaamu’alaikum wr. wb.

Sistem kerajaan memang runyam. Fitrah manusia adalah memilih orang yang paling unggul diantara mereka untuk dijadikan pemimpin. Orang hebat biasanya memang mampu membesarkan keturunan yang hebat pula, meski tidak selalu demikian. Karena sang pemimpin terpilih memiliki keturunan yang unggul, maka anak-anaknya pun mewarisi tahta kepemimpinan. Demikianlah pola ini berlanjut hingga akhirnya orang berpikiran untuk memberi jabatan tersebut hanya pada garis keturunan tertentu.

Celakanya, sistem kepemimpinan berdasarkan garis keturunan juga seringkali melahirkan anak-anak manja yang mengandalkan kharisma ayah-ayah mereka. Karena hidupnya serba terjamin di istana, mereka pun mabuk dalam kesombongan. Beberapa diantara mereka menjadi raja yang zalim, beberapa bahkan berani mengklaim dirinya sebagai Tuhan atau serupa dengan-Nya. Beginilah penyakit takabur kalau sudah kronis.

Ada juga kader Iblis yang apes karena harus berhadap-hadapan dengan seorang lelaki yang dikenal sangat lugas, pemberani, dan tidak tedeng aling-aling. Track record-nya luar biasa, mulai dari mendebat ayahnya sendiri yang seorang pembuat berhala, mendebat kaumnya sendiri, bahkan kemudian menghancurkan berhala-berhala yang disembah oleh kaumnya itu. Kini, sang penguasa yang merangkap kader Iblis bertatap muka dengan lelaki pemberani yang bernama Ibrahim as. Beginilah perdebatan singkat yang terjadi diantara mereka, sebagaimana terdokumentasikan di dalam Al-Qur’an :

Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang mendebat Ibrahim tentang Tuhannya (Allah) karena Allah telah memberikan kepada orang itu pemerintahan (kekuasaan). Ketika Ibrahim mengatakan : “Tuhanku ialah Yang menghidupkan dan mematikan,” orang itu berkata : “Saya dapat menghidupkan dan mematikan.” Ibrahim berkata : “Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah dia dari barat,” lalu terdiamlah orang kafir itu ; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.

(Q.S. Al-Baqarah [2] : 258)

Ada yang berpendapat bahwa sang penguasa ketika itu memanggil dua orang ke hadapannya. Yang satu dibiarkan hidup, sedang yang satu lagi dibunuh. Itulah yang dimaksudkan dengan kemampuan untuk menghidupkan dan mematikan. Menggelikan, memang. Tapi begitulah hasil kaderisasi Iblis. Lebih banyak bercanda daripada seriusnya. Bahkan nyawa orang pun dianggap permainan belaka. Tidak heran jika kini banyak yang ber-haha hihi sambil menyebut Al-Qur’an itu Kitab Suci porno, atau dengan tidak bertanggung jawabnya mengatakan bahwa kita tak usah pusing-pusing memikirkan siapa yang sesat, karena semua itu baru akan jelas di akhirat nanti. Bagi mereka ini, agama memang bukan untuk diseriusi.

Kata-kata menelanjangi penggunanya. Dengan argumen tadi, justru jelaslah logika berpikir sang raja yang sedang berdebat dengan Nabi Ibrahim as. Sudah jelas bahwa ia menganggap ‘mematikan dan menghidupkan’ itu ekivalen dengan ‘membiarkan hidup dan membunuh’. Barangkali demikian pulalah persangkaannya terhadap Allah. Dalam khayalnya, Allah hanya mampu membiarkan hidup dan membunuh. Allah tidak menciptakan, melainkan hanya tunduk pada keinginan manusia untuk bereproduksi. Di sisi lain, Allah juga bisa membunuh sekehendak-Nya. Inilah gabungan antara teori evolusi yang ‘tidak membutuhkan penciptaan’ dan penggambaran yang keji terhadap Allah. Maha Suci Allah dari apa yang mereka sifatkan pada-Nya...

Nabi Ibrahim as., tentu saja, jauh lebih cerdas daripada penguasa konyol yang satu itu. Kalau mengaku memiliki kemampuan yang setara dengan Allah, hendaknya dibuktikan dengan melakukan sesuatu yang sebanding dengan yang sudah dilakukan oleh Allah. Maka tantangan untuk menerbitkan matahari dari Barat adalah argumen yang sangat tepat dan menohok.

Setidaknya ada tiga pokok pikiran yang menginfeksi akal penguasa yang lupa daratan tadi, yaitu :

1. Allah itu pasif
2. Manusia (dalam hal ini adalah dirinya sendiri) mampu menyamai Allah dalam salah satu perbuatan-Nya
3. Allah itu kejam



Pokok pikiran yang pertama, as weird as it may sound, dibenarkan oleh banyak orang. Barangkali karena Allah tak pernah menampakkan wujud-Nya kepada kita, lantas kita berpikir bahwa Dia tidak sepenuhnya in charge di alam semesta ini. Ada yang berpendapat bahwa setelah menciptakan dunia ini, lantas Allah duduk manis sebagai penonton saja. Mereka menganggap bahwa setelah alam semesta ini diciptakan, Allah tidak lagi memegang kendali. Manusia pun boleh berkembang sekehendak hati. Bahkan dalam kondisi yang sangat ekstrem, Nasr Hamid Abu Zayd – seorang tokoh yang sering dikutip ucapannya oleh orang-orang sekuler-liberal – menganggap bahwa Allah pun harus tunduk pada ‘kuasa’ sejarah.

Banyak juga yang mengadopsi pola pikir kedua, yaitu mengira bahwa manusia bisa menyamai Allah. Sekian banyak orang yang mengenal sains secara ‘tanggung’ berkhayal bahwa ‘kesaktian sains’ adalah bukti bahwa Tuhan itu tidak dibutuhkan. Mereka merasa hebat karena telah mampu membuat bayi tabung, meskipun bahan dasarnya adalah sel telur dan sel sperma yang diciptakan oleh Allah juga. Bahkan sekiranya mereka mampu menciptakan manusia dari tanah, itu pun masih menggunakan ‘modal’ pemberian Allah. Pemikiran manusia yang merasa independen dari Tuhannya memang sungguh mengherankan, sekaligus juga begitu umum kita jumpai.

Poin ketiga adalah cara pelarian yang sangat menyedihkan. Karena tak mau mengikuti petunjuk Allah, lantas Allah pun disebut kejam. Allah sangat kejam karena telah menciptakan musibah, kelaparan, peperangan, dan kejahatan di muka bumi. Bahkan Allah telah menyiapkan siksa neraka yang membuat segala penderitaan di dunia nampak kecil. Mereka sama sekali tidak mempertimbangkan betapa banyaknya pemberian Allah pada seluruh makhluk ciptaan-Nya dan betapa banyak waktu yang diberikan kepada mereka untuk mampu memahami petunjuk-Nya.

Nabi Nuh as. menyampaikan dakwahnya selama ratusan tahun. Setelah sekian lama, dan sebagian besar kaumnya tetap kafir, barulah Allah SWT menenggelamkan mereka dalam peristiwa banjir besar. Demikian pula kaumnya para Nabi dan Rasul lainnya, mereka pun telah menyaksikan kebenaran dan mendapatkan cukup banyak waktu untuk belajar.

Masalahnya, sampai matahari terbit dari arah barat sekalipun, akan ada saja manusia yang tak mau belajar.

Wassalaamu’alaikum wr. wb.

Iblis Itu Kafir !  

Posted by agus3anto

Iblis Itu Kafir !

Assalaamu’alaikum wr. wb.

Saya harus berkali-kali mengingatkan diri saya sendiri mengapa topik culun seperti ini mesti dibahas. Akan tetapi di era cyber seperti ini, setiap informasi sangat berharga. Jika kita diam mematung, maka info-info yang sesat akan beredar bebas. Hal ini sudah terbukti nyata, karena – berkenaan dengan topik kali ini – memang benar-benar ada yang menyangka bahwa Iblis itu tidak kafir. Canggihnya lagi, ia malah dinobatkan sebagai makhluk yang tauhid-nya paling murni.


Nurcholis Majid dulu pernah bilang bahwa kalau kita banyak membaca, mungkin kita akan sependapat dengan orang-orang yang mengatakan bahwa Iblis itu murni tauhid-nya, karena ia menolak sujud kepada selain Allah SWT (dalam hal ini kepada Nabi Adam as.). Yang Cak Nur lupa jelaskan adalah : buku macam apa yang dibaca sehingga menghasilkan kesimpulan seperti itu? Inilah kegawatan era informasi seperti yang sudah saya sebutkan di paragraf sebelumnya.

Jadi, buku macam apa yang mengatakan bahwa Iblis itu murni tauhid-nya?

Kisah seputar penciptaan Nabi Adam as. dan penolakan Iblis untuk sujud kepadanya sudah cukup dikenal. Sayangnya, selain berita-berita yang diyakini kebenarannya, beredar pula kisah-kisah yang entah dari mana munculnya. Untuk menjaga kualitas rubrik ini, marilah kita bersandar pada referensi-referensi yang handal saja.

Ada tujuh surah di dalam Al-Qur’an yang memuat kisah menggemparkan ini. Anda bisa menemukannya di surah Al-Baqarah [2], Al-A’raaf [7], Al-Hijr [15], Al-Israa’ [17], Al-Kahfi [18], Thaaha [20], dan Shaad [38]. Jalan ceritanya sederhana dan mudah dipahami, jadi rasanya tidak perlu dibahas secara mendetil. Di sini, kita hanya akan membahas beberapa poin penting.

Pada suatu ketika, Allah SWT memutuskan untuk menciptakan manusia sebagai khalifah di muka bumi. Karena suatu sebab, hal ini membuat para malaikat heran dan mempertanyakan kehendak Allah tersebut. Allah kemudian menciptakan Nabi Adam as., membekalinya dengan ragam pengetahuan yang tidak dimiliki oleh para malaikat sekalipun, dan kemudian mereka pun merasa takjub pada makhluk baru ciptaan Allah tersebut (Q.S. Al-Baqarah [2] : 30-33). Dari sini kita dapat memahami bahwa meskipun Allah memiliki kekuasaan tak terbatas, namun kita boleh mengajukan pertanyaan atau mengekspresikan keheranan kita terhadap kehendak-Nya, tentunya dengan cara yang santun. Tentunya bertanya itu jauh berbeda dengan menolak mentah-mentah.

Iblis, on the other hand, bukan tipe teman berbincang yang baik. Tanpa tanya-tanya terlebih dahulu, ia langsung menolak perintah Allah untuk bersujud kepada Adam as., bahkan kemudian membantah-Nya. Pada surah Al-A’raaf, Al-Hijr, Al-Israa’ dan Shaad, kita dapat melihat dengan jelas alasan penolakan Iblis, yaitu karena ia – sebagai makhluk yang diciptakan dari api – merasa tak sudi bersujud kepada Adam as. yang diciptakan dari tanah.

Mari hayati episode yang satu ini. Iblis berhadap-hadapan dengan Allah SWT, yang ia sendiri tahu pasti bahwa kekuasaan-Nya tak ada bandingannya, kemudian ia membantah-Nya tanpa setidaknya bertanya terlebih dahulu. Jika memang ada iman dalam dirinya, maka pastilah iman itu luntur dengan sangat cepat. Kita tidak menjumpai makhluk lain yang lebih nekad daripada Iblis. Banyak yang durhaka kepada Allah, tapi mereka tidak memproklamirkan kedurhakaannya sedemikian rupa.

Hasilnya? Ada sekian banyak gelar yang ‘dihadiahkan’ kepada Iblis. Dari ketujuh surah yang sudah saya sebutkan di atas, inilah ‘gelar kehormatan’ yang diberikan kepadanya :

1. ‘takabur dan kafir’ (Q.S. Al-Baqarah [2] : 34
2. ‘hina’ (Q.S. Al-A’raaf [7] : 13)
3. ‘terkutuk’ (Q.S. Al-Hijr [15] : 34)
4. ‘calon penghuni neraka Jahannam’ (Q.S. Al-Israa’ [17] : 63)
5. ‘makhluk yang durhaka dan musuhnya manusia’ (Q.S. Al-Kahfi [18] : 50)
6. ‘pembangkang’ (Q.S. Thaahaa [20] : 116)
7. ‘takabur, kafir dan terkutuk’ (Q.S. Shaad [38] : 74-77)

Inikah gelar yang pantas untuk hamba yang murni tauhid-nya?

Penelusuran kita akhirnya sampai pada kesimpulan bahwa anjuran Cak Nur untuk ‘rajin membaca’ hendaknya diaplikasikan terlebih dahulu kepada Al-Qur’an sebagai bacaan utama, baru kepada bacaan-bacaan sekunder yang bermanfaat. Buku apa pun yang mengatakan bahwa Iblis memiliki tauhid yang murni sudah pasti bertentangan dengan Al-Qur’an. Pada titik ini, kita harus memilih antara beriman kepada Al-Qur’an atau memilih bahan bacaan lain untuk dijadikan rujukan.

Tentu tak perlu ada perdebatan lagi mengenai bagaimana kita harus memperlakukan Iblis. Iblis harus diperlakukan sebagai musuh. Akan tetapi, Iblis hanyalah satu oknum. Yang tidak boleh kita lupakan adalah bahwa Iblis – dalam euforia kesombongannya sesaat setelah menerima vonis kafir dari Allah – telah bersumpah untuk menyesatkan Bani Adam hingga akhir jaman (lihat, misalnya, di surah Shaad). Artinya, detik ini pun Iblis sedang sibuk melakukan proses kaderisasinya. Iblis memang hanya satu, namun doktrinnya menyebar kemana-mana. Kadang-kadang pemikirannya dibawa oleh manusia, kadang oleh jin. Manusia dan jin sama-sama memiliki kesempatan untuk bertaubat selama masih hidup dan belum kiamat. Sementara itu, Iblis dan pemikirannya terus abadi hingga waktu yang telah Allah tetapkan.

Nah, setelah topik konyol ini kita sudahi, insya Allah kita akan lanjutkan dengan membahas beberapa tokoh dalam sejarah peradaban manusia yang meniru-niru ‘kehebatan’ Iblis.


Wassalaamu’alaikum wr. wb.

Iblis Itu Kafir !  

Posted by agus3anto

Iblis Itu Kafir !

Assalaamu’alaikum wr. wb.

Saya harus berkali-kali mengingatkan diri saya sendiri mengapa topik culun seperti ini mesti dibahas. Akan tetapi di era cyber seperti ini, setiap informasi sangat berharga. Jika kita diam mematung, maka info-info yang sesat akan beredar bebas. Hal ini sudah terbukti nyata, karena – berkenaan dengan topik kali ini – memang benar-benar ada yang menyangka bahwa Iblis itu tidak kafir. Canggihnya lagi, ia malah dinobatkan sebagai makhluk yang tauhid-nya paling murni.


Nurcholis Majid dulu pernah bilang bahwa kalau kita banyak membaca, mungkin kita akan sependapat dengan orang-orang yang mengatakan bahwa Iblis itu murni tauhid-nya, karena ia menolak sujud kepada selain Allah SWT (dalam hal ini kepada Nabi Adam as.). Yang Cak Nur lupa jelaskan adalah : buku macam apa yang dibaca sehingga menghasilkan kesimpulan seperti itu? Inilah kegawatan era informasi seperti yang sudah saya sebutkan di paragraf sebelumnya.

Jadi, buku macam apa yang mengatakan bahwa Iblis itu murni tauhid-nya?

Kisah seputar penciptaan Nabi Adam as. dan penolakan Iblis untuk sujud kepadanya sudah cukup dikenal. Sayangnya, selain berita-berita yang diyakini kebenarannya, beredar pula kisah-kisah yang entah dari mana munculnya. Untuk menjaga kualitas rubrik ini, marilah kita bersandar pada referensi-referensi yang handal saja.

Ada tujuh surah di dalam Al-Qur’an yang memuat kisah menggemparkan ini. Anda bisa menemukannya di surah Al-Baqarah [2], Al-A’raaf [7], Al-Hijr [15], Al-Israa’ [17], Al-Kahfi [18], Thaaha [20], dan Shaad [38]. Jalan ceritanya sederhana dan mudah dipahami, jadi rasanya tidak perlu dibahas secara mendetil. Di sini, kita hanya akan membahas beberapa poin penting.

Pada suatu ketika, Allah SWT memutuskan untuk menciptakan manusia sebagai khalifah di muka bumi. Karena suatu sebab, hal ini membuat para malaikat heran dan mempertanyakan kehendak Allah tersebut. Allah kemudian menciptakan Nabi Adam as., membekalinya dengan ragam pengetahuan yang tidak dimiliki oleh para malaikat sekalipun, dan kemudian mereka pun merasa takjub pada makhluk baru ciptaan Allah tersebut (Q.S. Al-Baqarah [2] : 30-33). Dari sini kita dapat memahami bahwa meskipun Allah memiliki kekuasaan tak terbatas, namun kita boleh mengajukan pertanyaan atau mengekspresikan keheranan kita terhadap kehendak-Nya, tentunya dengan cara yang santun. Tentunya bertanya itu jauh berbeda dengan menolak mentah-mentah.

Iblis, on the other hand, bukan tipe teman berbincang yang baik. Tanpa tanya-tanya terlebih dahulu, ia langsung menolak perintah Allah untuk bersujud kepada Adam as., bahkan kemudian membantah-Nya. Pada surah Al-A’raaf, Al-Hijr, Al-Israa’ dan Shaad, kita dapat melihat dengan jelas alasan penolakan Iblis, yaitu karena ia – sebagai makhluk yang diciptakan dari api – merasa tak sudi bersujud kepada Adam as. yang diciptakan dari tanah.

Mari hayati episode yang satu ini. Iblis berhadap-hadapan dengan Allah SWT, yang ia sendiri tahu pasti bahwa kekuasaan-Nya tak ada bandingannya, kemudian ia membantah-Nya tanpa setidaknya bertanya terlebih dahulu. Jika memang ada iman dalam dirinya, maka pastilah iman itu luntur dengan sangat cepat. Kita tidak menjumpai makhluk lain yang lebih nekad daripada Iblis. Banyak yang durhaka kepada Allah, tapi mereka tidak memproklamirkan kedurhakaannya sedemikian rupa.

Hasilnya? Ada sekian banyak gelar yang ‘dihadiahkan’ kepada Iblis. Dari ketujuh surah yang sudah saya sebutkan di atas, inilah ‘gelar kehormatan’ yang diberikan kepadanya :

1. ‘takabur dan kafir’ (Q.S. Al-Baqarah [2] : 34
2. ‘hina’ (Q.S. Al-A’raaf [7] : 13)
3. ‘terkutuk’ (Q.S. Al-Hijr [15] : 34)
4. ‘calon penghuni neraka Jahannam’ (Q.S. Al-Israa’ [17] : 63)
5. ‘makhluk yang durhaka dan musuhnya manusia’ (Q.S. Al-Kahfi [18] : 50)
6. ‘pembangkang’ (Q.S. Thaahaa [20] : 116)
7. ‘takabur, kafir dan terkutuk’ (Q.S. Shaad [38] : 74-77)

Inikah gelar yang pantas untuk hamba yang murni tauhid-nya?

Penelusuran kita akhirnya sampai pada kesimpulan bahwa anjuran Cak Nur untuk ‘rajin membaca’ hendaknya diaplikasikan terlebih dahulu kepada Al-Qur’an sebagai bacaan utama, baru kepada bacaan-bacaan sekunder yang bermanfaat. Buku apa pun yang mengatakan bahwa Iblis memiliki tauhid yang murni sudah pasti bertentangan dengan Al-Qur’an. Pada titik ini, kita harus memilih antara beriman kepada Al-Qur’an atau memilih bahan bacaan lain untuk dijadikan rujukan.

Tentu tak perlu ada perdebatan lagi mengenai bagaimana kita harus memperlakukan Iblis. Iblis harus diperlakukan sebagai musuh. Akan tetapi, Iblis hanyalah satu oknum. Yang tidak boleh kita lupakan adalah bahwa Iblis – dalam euforia kesombongannya sesaat setelah menerima vonis kafir dari Allah – telah bersumpah untuk menyesatkan Bani Adam hingga akhir jaman (lihat, misalnya, di surah Shaad). Artinya, detik ini pun Iblis sedang sibuk melakukan proses kaderisasinya. Iblis memang hanya satu, namun doktrinnya menyebar kemana-mana. Kadang-kadang pemikirannya dibawa oleh manusia, kadang oleh jin. Manusia dan jin sama-sama memiliki kesempatan untuk bertaubat selama masih hidup dan belum kiamat. Sementara itu, Iblis dan pemikirannya terus abadi hingga waktu yang telah Allah tetapkan.

Nah, setelah topik konyol ini kita sudahi, insya Allah kita akan lanjutkan dengan membahas beberapa tokoh dalam sejarah peradaban manusia yang meniru-niru ‘kehebatan’ Iblis.


Wassalaamu’alaikum wr. wb.

Senarai Senja  

Posted by agus3anto

Senarai Senja

Tapi aku masih saja berbalut jubahMu,
jubah yang kucuri ketika celah-celah waktu memanggil, dan tak kuhinggapi helai permadani yang kau hamparkan untukku.
BAHKAN ketika langit berubah MERAH, NILA atau JINGGA.

Dan aku masih saja berdiri ponggah dalam ketakberdayaanku yang tersamar oleh ego dan lecutan angkara.
Atau baur bersama raung klakson dari mobil box pengangkut mimpi.

Seringkali aku meringkuk dalam kubangan kata ketika menjajakiMu seperti aku mengenalkan seorang kawan lama pada segerombolan pengelana yang tersesat di antara hujan yang menghutan, pada senja yang berkomplot dengan gelap.
Di antara rindang prasangka yang tak pernah ada titik akhir seperti setapak dalam sebuah peta.

Dan aku tersesat dalam senja yang kalian ceritakan, menggapai pegangan tanpa sedikitpun bias cahaya.

Terseok dalam gulita yang membuatku sesak.
Adakah senarai terang di ujung sana?
meski samar, meski hanya sebatas geriap??